Pengertian Schema Mark Up dan Implementasinya

Kali ini, kita akan mempelajari tentang seluk beluk schema mark up. Pada postingan kali ini, kita akan memahami dulu pengertian dan cara kerja Schema mark up. Pernahkah kamu melihat tampilan di SERP yang menarik seperti pada gambar berikut ini?

Tampilan Schema Mark Up
Tampilan Schema Mark Up

Menarik bukan? dengan tampilan yang padat dan informatif, user akan menjadi lebih tertarik untuk klik website kita yang tampil di SERP.

Tahukah kamu? tampilan tersebut muncul dikarenakan website yang bersangkutan sudah mengimplementasikan schema pada websitenya. Dengan implementasi schema mark up tersebut, google lebih mudah mengerti struktur pada website sehingga dapat ditampilkan di SERP

Apa Itu Schema Mark Up?

Baiklah, sebelum kita berbicara lebih jauh, ayo kita mulai dari hal yang lebih sederhana, yaitu pengertian schema mark up itu sendiri.

Schema mark up adalah kode yang ditanamkan di sebuah website untuk membantu search engine memberikan hasil yang lebih informatif di SERP.

Secara sederhana, schema mark up ini akan memberitahu google standarisasi struktur data atau konten dalam sebuah website.

Mempelajari implementasi schema akan sedikit rumit karena bisa dibilang agak “technical”. Namun, jika Kamu sudah cukup lama berkutat di bidang SEO, implementasi schema tidaklah sulit.

Cara Memasang Schema Mark Up Pada Website

Sebelum memulai untuk memasang schema, ada beberapa hal yang harus disiapkan. Beberapa hal tersebut antara lain:

  1. Pengetahuan dasar seputar HTML
  2. Google Structured Data Testing Tool untuk pengecekan
  3. Schema.org

Jika ketiga hal tersebut sudah dapat dipenuhi & diakses, maka kamu sudah siap untuk menambahkan schema di website. Berikut urutan implementasinya.

1. Tentukan Schema yang ingin dipakai

Banyak pilihan schema yang tersedia di schema.org. Mungkin untuk orang-orang yang baru pertama kali melihatnya akan merasa rumit.

Namun, tidak semua schema penting untuk websitemu. Maka dari itu, tentukan terlebih dahulu tujuan pembuatan schema yang kamu inginkan. Berikut beberapa tujuan pembuatan schema yang umum dilakukan praktisi / blogger:

  1. Memunculkan image di search result
  2. Menampilkan rating di search result
  3. Memberikan informasi event yang akan datang
  4. Menampilkan alamat pada SERP

Pilihlah schema yang paling sesuai dengan niche atau konten di websitemu.

2. Metode JSON-LD

Ada beberapa metode yang dipakai untuk memasang schema di website. Beberapa di antaranya yaitu dengan metode mark up, micro data, RDFa, dan JSON-LD.

JSON-LD adalah cara yang saya rekomendasikan di sini. Metode ini juga merupakan metode yang disarankan oleh google. JSON-LD ini berbasis javascript. Schema akan ditambahkan ke situs dalam bentuk script sehingga lebih mudah dibaca dan debug.

Menambahkan schema ke dalam website menggunakan JSON-LD membutuhkan setidaknya pengetahuan dasar HTML. Contoh yang bisa kita gunakan sudah tersedia di halaman schema.org.

Cara untuk melihat contoh JSON-LD yang ingin dipasang melalui schema.org adalah:

  • Buka halaman schema yang ingin kita pasang. Contohnya saat kita ingin menambahkan schema resep makanan, maka kita akan membuka halaman : https://schema.org/Recipe
  • Scroll ke bawah dan buka tab JSON-LD. Kurang lebih tampilannya akan seperti ini:
Contoh Json LD pada schema.org

3. Pasang Schema di Website

Untuk memasang schema pada website, Kamu tinggal membuka copy kode yang diiinginkan dan paste di page yang ingin diberikan schema.

Contohnya adalah, jika Kamu ingin memasang schema receipe seperti gambar yang ditunjukkan di awal, maka salah satu schema yang dapat dipasang adalah seperti berikut:

1 <script type=”application/ld+json”>
2 {
3 “@context”: “https://schema.org”,
4 “@type”: “Recipe”,
5 “author”: “Jake Smith”,
6 “cookTime”: “PT2H”,
7 “datePublished”: “2015-05-18”,
8 “description”: “Your recipe description goes here”,
9 “image”: “http://www.example.com/images.jpg”,
10 “recipeIngredient”: [
11 “ingredient 1”,
12 “ingredient 2”,
13 “ingredient 3”,
14 “ingredient 4”,
15 “ingredient 5”
16 ],
17 “interactionStatistic”: {
18 “@type”: “InteractionCounter”,
19 “interactionType”: “http://schema.org/Comment”,
20 “userInteractionCount”: “5”
21 },
22 “name”: “Rand’s Cookies”,
23 “nutrition”: {
24 “@type”: “NutritionInformation”,
25 “calories”: “1200 calories”,
26 “carbohydrateContent”: “12 carbs”,
27 “proteinContent”: “9 grams of protein”,
28 “fatContent”: “9 grams fat”
29 },
30 “prepTime”: “PT15M”,
31 “recipeInstructions”: “This is the long part, etc.”,
32 “recipeYield”: “12 cookies”
33 }
34 </script>

Jangan lupa untuk mengedit author, ingredient, dan komponen yang dibutuhkan. Selain itu, jika ada komponen yang tidak dibutuhkan, bisa dikurangi sesuai kebutuhan.

Gunakan Google Tag Manager

Implementasi schema mark up tersebut akan lebih mudah jika menggunakan Google Tag Manager. Apalagi jika website tersebut tidak menggunakan wordpress atau platform blog.

Pada Google Tag Manager, Kamu dapat menambahkan tag baru menggunakan custom HTML. Berikut tahapan-tahapannya:

  1. Klik New Tag, dan pilih custom HTML
  2. Paste Schema yang sudah dicopy dan diedit
  3. Untuk Trigger, pilih page view dan custom dengan halaman yang ingin dipasang.
  4. Klik Save
Contoh schema yang dipasang di halaman contact

4. Cek Schema

Setelah schema berhasil dipasang, hal selanjutnya yang penting untuk dilakukan adalah mengecek skema tersebut sudah terpasang dengan benar atau belum.

Pengecekan ini dilakukan dengan tujuan untuk memastikan apakah schema yang dipasang sudah sesuai atau belum. Pengecekan ini sangat mudah, Kamu tinggal mengunakan Google’s Structured Data Testing Tool.

Buka tools tersebut dan paste URL yang ingin dicek. Tampilannya kurang lebih akan menjadi seperti gambar berikut ini:

tampilan google structured data testing tool

Jika semua sudah terpasang dengan benar, maka Kamu tinggal menunggu halaman tersebut diindeks oleh google dan ditampilkan di SERP sesuai keinginan.

Semoga artikel tentang schema mark up dan implementasinya ini bermanfaat untuk teman-teman yang membutuhkan. Jangan lupa share ke praktisi lainnya yang membutuhkan konten ini ya. Salam Page One!

Leave a Reply